Banyak hotel sebenarnya sudah aktif marketing, mulai dari Instagram jalan, Ads running, Website ada traffic, dan bahkan reels kadang views-nya tinggi. Tapi anehnya, booking tetap terasa stagnan. Situasi seperti ini cukup sering terjadi di hospitality. Dan biasanya masalahnya bukan karena hotel kurang exposure, melainkan karena funnel marketing-nya belum terbentuk dengan benar.
Apalagi untuk resort, villa, atau luxury stay. Traveler sekarang cenderung melakukan riset lebih panjang sebelum akhirnya memutuskan reservasi. Mereka lihat dulu ambience property-nya, cek review, compare harga, stalking Instagram, buka OTA, sampai memastikan lokasi dan experience-nya sesuai. Semua proses itu sebenarnya adalah bagian dari funnel marketing hotel.
Apa itu Funnel Marketing Hotel?
Secara sederhana, funnel marketing adalah proses mengubah orang yang awalnya hanya “lihat-lihat” menjadi tamu yang benar-benar booking. Jadi bukan sekadar mendatangkan traffic. Karena traffic besar tanpa conversion akhirnya hanya jadi vanity metrics. Ini yang kadang membuat banyak hotel merasa ads mereka “ramai tapi tidak menghasilkan”. Padahal audience yang baru pertama kali melihat hotel tentu berbeda dengan audience yang sudah siap booking.
Traveler Sekarang Tidak Booking Secepat Dulu
Perilaku traveler berubah cukup banyak beberapa tahun terakhir. Sekarang orang lebih visual, lebih impulsif, tapi juga lebih banyak compare. Seseorang bisa menemukan hotel dari TikTok atau reels Instagram, lalu beberapa hari kemudian baru search di Google. Setelah itu mereka cek review di OTA, lihat harga competitor, dan akhirnya booking lewat WhatsApp atau website. Tentunya semua journey tersebut tidak sama, sehingga funnel marketing jadi penting, terutama untuk hotel yang ingin meningkatkan direct booking dan tidak terlalu bergantung pada OTA.
Tahap Pertama: Saat Orang Baru Mengenal Hotel
Di tahap awal, tujuan utama sebenarnya bukan langsung jualan. Yang lebih penting adalah membangun attention dan membuat orang berhenti scrolling, karena hospitality itu sangat visual. Konten seperti: room tour, floating breakfast, sunset view, jungle ambience, atau cinematic experience biasanya bekerja jauh lebih baik dibanding hard selling “book now”. Terutama di market seperti Bali, traveler ingin membayangkan experience sebelum mereka benar-benar booking dan ini sering dilupakan banyak hotel. Mereka terlalu cepat masuk ke promo dan diskon, padahal audience belum punya emotional connection dengan property tersebut.
Baca juga 7 Strategi Hospitality Marketing untuk Kejar Okupansi
Setelah Tertarik, Audience Mulai Compare
Pada tahap ini biasanya calon tamu mulai lebih serius. Mereka mulai buka website hotel, cek harga, compare dengan property lain, lihat fasilitas, hingga cari review guest sebelumnya. Di sinilah banyak hotel kehilangan potential booking. Kadang bukan karena hotelnya jelek, tapi karena experience digital-nya kurang convincing. Website terlalu lambat, foto kurang kuat, informasi tidak jelas, atau booking process terlalu ribet. Kalau dalam beberapa detik mereka tidak menemukan informasi yang dibutuhkan, biasanya mereka langsung close tab dan lanjut cari hotel lain.
Funnel Hotel Modern = Digital Experience
Dulu mungkin orang booking hotel lebih sederhana. Sekarang hampir semua keputusan dipengaruhi online visibility. Mulai dari social media, google, OTA, hingga review content creator. Bahkan kadang satu reels instagram bisa menciptakan demand cukup besar untuk sebuah property. Sehingga funnel marketing hotel sekarang tidak bisa dipisahkan dari content dan digital marketing. Traffic memang penting, namun kualitas attention jauh lebih penting.
Jika hotel atau villa Anda ingin meningkatkan direct booking, memperkuat digital presence, dan membangun funnel marketing yang lebih conversion-focused, tim ecommerceloka siap membantu menyesuaikan strategi digital sesuai kebutuhan properti Anda.
