Saat mencari hotel untuk liburan, Anda mungkin pernah menemukan harga kamar yang berubah-ubah meski tipe kamar dan fasilitasnya sama. Sebuah kamar yang dibanderol Rp800.000 per malam pada bulan tertentu bisa melonjak menjadi Rp1.500.000 saat musim liburan. Sebaliknya, di waktu lain harga justru turun hingga di bawah Rp700.000.
Perubahan tersebut bukan terjadi tanpa alasan. Industri perhotelan menerapkan strategi penetapan harga yang mengikuti tingkat permintaan pasar atau demand. Ketika permintaan meningkat, harga kamar cenderung naik. Sebaliknya, saat jumlah wisatawan menurun, hotel biasanya menawarkan harga yang lebih kompetitif untuk menjaga tingkat okupansi.
Kondisi ini dikenal dengan istilah peak season dan low season. Memahami perbedaan keduanya tidak hanya bermanfaat bagi wisatawan yang ingin mendapatkan harga terbaik, tetapi juga penting bagi pengelola hotel dalam menyusun strategi penjualan dan meningkatkan pendapatan.
Apa Itu Peak Season?
Peak season adalah periode ketika permintaan kamar hotel berada pada tingkat tertinggi. Pada masa ini, jumlah wisatawan meningkat sehingga banyak hotel mengalami okupansi yang tinggi, bahkan penuh.
Peak season umumnya terjadi saat:
- libur sekolah;
- Hari Raya Idulfitri;
- Natal dan Tahun Baru;
- long weekend;
- musim liburan internasional;
- event besar seperti festival, konser, atau konferensi.
Di destinasi wisata seperti Bali, peak season juga dipengaruhi oleh musim liburan wisatawan mancanegara, terutama pada pertengahan dan akhir tahun.
Apa Itu Low Season?
Sebaliknya, low season merupakan periode ketika jumlah wisatawan menurun sehingga permintaan kamar hotel lebih rendah dibandingkan periode lainnya.
Pada masa ini, hotel biasanya memiliki tingkat okupansi yang lebih rendah dan persaingan untuk mendapatkan tamu menjadi lebih ketat.
Meski sering dianggap sebagai periode yang kurang menguntungkan, low season sebenarnya menjadi kesempatan bagi hotel untuk menjalankan berbagai strategi pemasaran, memperkuat loyalitas pelanggan, dan menarik segmen pasar baru.
Mengapa Harga Hotel Berubah Saat Peak Season dan Low Season?
Harga hotel tidak ditentukan secara tetap sepanjang tahun. Sebagian besar hotel menerapkan dynamic pricing, yaitu strategi penyesuaian harga berdasarkan kondisi pasar dan tingkat permintaan.
Ketika permintaan meningkat pada peak season, jumlah kamar yang tersedia menjadi lebih terbatas. Dalam kondisi ini, hotel memiliki peluang untuk menaikkan tarif karena banyak tamu tetap bersedia melakukan reservasi.
Sebaliknya, saat memasuki low season, hotel biasanya menyesuaikan harga agar tetap kompetitif dan menarik lebih banyak tamu.
Selain tingkat permintaan, penyesuaian harga juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
- tingkat okupansi;
- kompetitor di sekitar lokasi;
- event yang sedang berlangsung;
- lama menginap (length of stay);
- waktu pemesanan (booking window);
- tren pencarian dan reservasi.
Strategi Hotel Saat Peak Season
Periode peak season menjadi peluang bagi hotel untuk memaksimalkan pendapatan. Namun, strategi yang diterapkan bukan sekadar menaikkan harga kamar. Beberapa strategi yang umum dilakukan antara lain:
a.Menyesuaikan Harga Secara Bertahap
Hotel biasanya mulai menaikkan tarif jauh sebelum periode liburan dimulai berdasarkan data permintaan dan pola reservasi.
b.Mengurangi Diskon yang Tidak Diperlukan
Karena permintaan sudah tinggi, hotel tidak perlu memberikan promosi besar yang dapat mengurangi potensi pendapatan.
c.Menerapkan Minimum Length of Stay
Pada periode tertentu, hotel dapat menetapkan syarat minimal menginap, misalnya dua atau tiga malam, agar pendapatan lebih optimal.
d.Meningkatkan Pendapatan dari Layanan Tambahan
Selain kamar, hotel juga dapat menawarkan paket makan malam, spa, transportasi, atau aktivitas wisata sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai transaksi.
Strategi Hotel Saat Low Season
Low season bukan berarti hotel harus selalu menurunkan harga secara drastis. Fokus utama pada periode ini adalah menjaga tingkat okupansi sekaligus mempertahankan profitabilitas.
Beberapa strategi yang sering diterapkan meliputi:
- menawarkan paket staycation;
- memberikan promo long stay;
- bekerja sama dengan perusahaan atau travel agent;
- meningkatkan aktivitas digital marketing;
- menjalankan kampanye email kepada pelanggan lama;
- menawarkan nilai tambah seperti sarapan gratis atau late check-out dibanding sekadar diskon harga.
Pendekatan seperti ini sering kali lebih efektif dalam menjaga persepsi nilai hotel daripada hanya bersaing melalui harga.
Mengapa Revenue Management Sangat Penting?
Perbedaan harga antara peak season dan low season tidak bisa dikelola hanya berdasarkan perkiraan. Hotel memerlukan data untuk menentukan kapan harga perlu dinaikkan, dipertahankan, atau disesuaikan.
Di sinilah revenue management berperan penting.
Melalui analisis data historis, tingkat okupansi, tren reservasi, hingga aktivitas kompetitor, hotel dapat menyusun strategi harga yang lebih akurat. Tujuannya bukan hanya menjual kamar sebanyak mungkin, tetapi memaksimalkan pendapatan dari setiap kamar yang tersedia.
Strategi ini membantu hotel menjaga keseimbangan antara tingkat hunian dan keuntungan, baik saat permintaan tinggi maupun rendah.
Peran ecommercelokal dalam Mengoptimalkan Harga
Saat ini, pengelolaan harga tidak lagi dilakukan secara manual. Melalui sistem ecommerce hotel, hotel dapat memperbarui tarif secara real-time di berbagai channel distribusi, termasuk website resmi dan OTA.
Selain menjaga konsistensi harga, sistem yang terintegrasi juga membantu hotel memantau performa setiap channel penjualan, memahami perilaku pemesanan tamu, serta merespons perubahan pasar dengan lebih cepat.
Jika Anda ingin mengoptimalkan strategi harga, pengelolaan OTA, meningkatkan visibilitas online, serta membangun ecommerce hotel yang mampu mendukung pertumbuhan reservasi, Ecommerceloka siap membantu hotel Anda mengembangkan strategi digital yang lebih efektif dan berkelanjutan.
baca juga Rahasia Revenue Management yang Diam-Diam Dipakai Kompetitor Hotel
