Kuta, Bali - Indonesia

+62 817 7689 9998

Guest House Sepi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

blog-image

Guest house sepi bukan selalu berarti harga kamar terlalu mahal. Banyak faktor yang bisa membuat tingkat hunian rendah, mulai dari kurangnya visibilitas di OTA, foto yang kurang menarik, strategi harga yang tidak sesuai pasar, sampai calon tamu yang kesulitan menemukan informasi tentang properti.

Bagi pemilik guest house, kondisi ini tentu perlu segera diperhatikan. Kamar yang kosong berarti ada potensi pendapatan yang terlewat. Kabar baiknya, sebagian besar masalah tersebut bisa diperbaiki dengan strategi marketing yang tepat.

Kenapa Guest House Bisa Sepi?

Sebelum mengubah strategi pemasaran, penting untuk mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Berikut beberapa masalah yang paling sering terjadi.

1. Guest House Sulit Ditemukan di OTA

Saat ini banyak wisatawan mencari penginapan melalui Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka, Tiket.com, Booking.com, Agoda, dan platform lainnya.

Jika guest house jarang muncul dalam pencarian, peluang mendapatkan booking tentu ikut menurun. Hal ini bisa dipengaruhi oleh rating, jumlah ulasan, harga, kelengkapan informasi, foto, hingga performa listing. Karena itu, pengelolaan OTA tidak cukup hanya dengan memasukkan harga kamar. Listing perlu terus dioptimalkan agar lebih kompetitif.

2. Foto Kamar Kurang Menjual

Calon tamu tidak bisa melihat guest house secara langsung sebelum melakukan booking. Foto menjadi salah satu pertimbangan utama mereka.

Foto yang gelap, terlalu sedikit, atau tidak menunjukkan fasilitas dengan jelas bisa membuat calon tamu memilih properti lain. Pastikan foto menampilkan kamar, kamar mandi, area umum, fasilitas, akses masuk, dan bagian menarik dari guest house.

3. Harga Tidak Sesuai dengan Kondisi Pasar

Harga terlalu tinggi dapat membuat calon tamu beralih ke kompetitor. Namun, harga terlalu murah juga belum tentu membuat booking meningkat.

Yang lebih penting adalah memahami harga kompetitor di sekitar guest house, musim kunjungan, hari ramai, serta permintaan pada periode tertentu. Strategi harga sebaiknya fleksibel, bukan menggunakan harga yang sama sepanjang tahun.

4. Review dan Rating Masih Rendah

Review sangat berpengaruh terhadap keputusan calon tamu.

Guest house dengan rating tinggi dan review yang positif biasanya lebih meyakinkan dibanding properti dengan sedikit review atau banyak keluhan. Selain meminta tamu memberikan review setelah menginap, pemilik juga perlu memperhatikan keluhan yang berulang. Misalnya masalah kebersihan, Wi-Fi, pelayanan, atau fasilitas kamar.

5. Tidak Memiliki Strategi Marketing yang Konsisten

Guest house tidak cukup hanya mengandalkan OTA. Marketing perlu dilakukan melalui beberapa channel agar calon tamu memiliki lebih banyak kesempatan untuk menemukan properti. Misalnya melalui Google Business Profile, Instagram, TikTok, website, Google Ads, hingga promosi melalui OTA.

Inilah alasan mengapa strategi marketing hotel atau akomodasi perlu disesuaikan dengan target pasar dan lokasi properti.

Baca juga Jangan Salah Pilih! Kenali Perbedaan Guesthouse dan Homestay

Cara Mengatasi Guest House yang Sepi

Setelah mengetahui penyebabnya, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.

1. Optimalkan Listing di OTA

Periksa kembali semua OTA yang digunakan. Pastikan nama properti, deskripsi, fasilitas, foto, tipe kamar, kebijakan, dan harga sudah diperbarui. Gunakan judul dan deskripsi yang jelas sehingga calon tamu langsung memahami keunggulan guest house.

Untuk pemilik properti di Bali yang ingin meningkatkan pengelolaan OTA, menggunakan jasa OTA Bali juga bisa menjadi pilihan, terutama jika belum memiliki tim khusus untuk mengelola channel OTA.

2. Perbarui Foto dan Konten

Tidak harus langsung melakukan renovasi besar. Terkadang perubahan sederhana seperti foto baru dengan pencahayaan yang lebih baik sudah dapat membuat listing terlihat lebih menarik. Tampilkan juga keunggulan yang mungkin dicari wisatawan, misalnya:

  • Dekat pantai atau tempat wisata
  • Dekat pusat kuliner
  • Free Wi-Fi
  • Kolam renang
  • Parkir
  • Airport transfer
  • Breakfast
  • Workspace

3. Buat Strategi Harga yang Fleksibel

Coba gunakan harga berbeda berdasarkan periode. Contohnya, harga dapat dibuat lebih kompetitif saat weekday atau low season. Sementara pada periode high season, harga dapat disesuaikan dengan tingginya permintaan. Promo seperti early booking, last-minute deal, long stay, atau diskon untuk periode tertentu juga dapat digunakan untuk membantu meningkatkan okupansi.

4. Perhatikan Kompetitor

Jangan hanya melihat harga sendiri. Cek juga beberapa guest house atau hotel yang menjadi kompetitor langsung. Bandingkan: Harga kamar, Rating, Jumlah review, Foto, dan hal lainnya. Dari sini pemilik bisa mengetahui apakah guest house terlalu mahal, kurang menarik dari sisi value, atau justru memiliki keunggulan yang belum dikomunikasikan dengan baik.

5. Maksimalkan Google Business Profile

Tidak semua calon tamu langsung mencari guest house melalui OTA. Sebagian mencari melalui Google dengan kata kunci seperti "guest house di Bali", "guest house dekat Ubud", atau pencarian berdasarkan lokasi. Pastikan Google Business Profile memiliki informasi yang lengkap, foto terbaru, jam operasional, nomor kontak, serta review yang aktif.

6. Gunakan Channel Marketing di Luar OTA

OTA memang penting, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya sumber booking. Guest house juga dapat membangun traffic dari Instagram, TikTok, Google Search, website, dan channel lainnya. Website sendiri dapat menjadi aset penting karena calon tamu bisa mendapatkan informasi lengkap dan melakukan booking tanpa selalu bergantung pada OTA.

Apakah Guest House Perlu Strategi Ecommerce?

Pengelolaan ecommerce hotel bukan hanya tentang membuat hotel tersedia di OTA. Ecommerce juga berkaitan dengan bagaimana properti mengatur distribusi kamar, harga, promosi, channel penjualan, serta performa masing-masing channel. Untuk guest house yang sudah menggunakan beberapa OTA, pengelolaan yang lebih terstruktur dapat membantu mengurangi pekerjaan manual dan membuat strategi penjualan lebih mudah dipantau.

Namun, kebutuhan setiap properti berbeda. Guest house kecil dengan jumlah kamar terbatas mungkin membutuhkan strategi yang lebih sederhana dibanding hotel dengan puluhan atau ratusan kamar.

Kapan Harus Menggunakan Jasa ecommerceloka?

Jika okupansi terus rendah meskipun harga sudah kompetitif, foto sudah diperbarui, dan listing sudah aktif di beberapa OTA, mungkin masalahnya bukan sekadar harga.

Ada kemungkinan strategi distribusi, positioning, konten, atau marketing belum berjalan optimal. Di tahap ini, pemilik dapat mempertimbangkan bantuan dari agency atau konsultan yang memahami ecommerce hotel, OTA, digital marketing, dan kondisi pasar lokal.

Ecommerceloka membantu properti mengelola dan mengoptimalkan channel digital dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing properti.