Kuta, Bali - Indonesia

+62 817 7689 9998

Net ADR Hotel: Cara Menghitung Pendapatan Bersih

blog-image

Banyak hotel melihat ADR (Average Daily Rate) sebagai salah satu indikator utama untuk menilai performa penjualan kamar. Misalnya, rata-rata harga kamar yang terjual adalah Rp1.000.000 per malam. Angka tersebut terlihat cukup baik.

Namun, apakah hotel benar-benar menerima Rp1.000.000 dari setiap kamar yang terjual? Belum tentu. Jika booking berasal dari Online Travel Agent (OTA), hotel biasanya harus membayar komisi sesuai dengan ketentuan masing-masing platform. Artinya, harga yang terlihat sebagai ADR belum tentu sama dengan pendapatan bersih yang benar-benar diterima hotel.

Di sinilah Net ADR menjadi penting. Dengan memahami Net ADR, hotel dapat melihat berapa pendapatan kamar setelah memperhitungkan biaya distribusi, terutama komisi OTA. Data ini juga dapat membantu hotel menentukan harga, memilih channel penjualan, dan menyusun strategi marketing hotel yang lebih berdasarkan profit daripada sekadar jumlah booking.

Apa Itu Net ADR Hotel?

Net ADR adalah rata-rata pendapatan bersih yang diterima hotel dari setiap kamar yang terjual setelah dikurangi biaya distribusi atau komisi penjualan. Secara sederhana:

Net ADR = Room Revenue Setelah Komisi ÷ Jumlah Kamar Terjual

Contohnya, sebuah hotel menjual kamar dengan harga rata-rata Rp1.000.000 per malam melalui OTA. Jika komisi OTA sebesar 18%, maka:

  • ADR: Rp1.000.000
  • Komisi OTA: Rp180.000
  • Pendapatan bersih: Rp820.000

Maka Net ADR hotel adalah sekitar Rp820.000. Jadi, meskipun laporan penjualan menunjukkan ADR Rp1.000.000, hotel sebenarnya hanya menerima Rp820.000 sebelum memperhitungkan biaya operasional lainnya.

Perlu diperhatikan bahwa cara menghitung Net ADR dapat berbeda tergantung biaya distribusi apa saja yang dimasukkan. Hotel sebaiknya menetapkan definisi yang konsisten agar perbandingan antar-channel tetap akurat.

baca juga Bongkar Rahasia OTA Hotel: Dari Ranking, Click hingga Booking

Mengapa Hotel Perlu Menghitung Net ADR?

Jika hanya melihat ADR, OTA terlihat menghasilkan harga kamar yang lebih tinggi. Tetapi setelah biaya distribusi diperhitungkan, direct booking justru menghasilkan pendapatan bersih lebih tinggi. Inilah alasan hotel tidak sebaiknya hanya mengejar ADR tertinggi atau jumlah booking terbanyak. Yang lebih penting adalah memahami berapa nilai bersih yang dihasilkan setiap channel.

Net ADR vs ADR: Apa Bedanya?

ADR menunjukkan rata-rata harga kamar yang terjual. Sementara itu, Net ADR melihat pendapatan setelah biaya tertentu yang berkaitan dengan distribusi dikurangi. Contoh: Hotel menjual 100 room nights dengan total room revenue Rp100 juta.

Maka: ADR = Rp100 juta ÷ 100 = Rp1 juta

Jika Rp70 juta berasal dari OTA dengan komisi rata-rata 18%, dan Rp30 juta berasal dari direct booking dengan biaya distribusi Rp30.000 per booking, maka pendapatan bersih dari masing-masing channel akan berbeda. Karena itu, hotel dapat menggunakan kedua metrik tersebut untuk tujuan yang berbeda:

  • ADR: melihat rata-rata harga kamar terjual.
  • Net ADR: melihat pendapatan kamar setelah biaya distribusi.
  • Occupancy: melihat tingkat kamar yang terisi.
  • RevPAR: melihat revenue kamar berdasarkan total kamar yang tersedia.

Keempat metrik ini sebaiknya dibaca bersama, bukan berdiri sendiri.

Jangan Lupa Menghitung Biaya Selain Komisi OTA

Net ADR sederhana biasanya hanya memperhitungkan komisi OTA. Namun, untuk analisis yang lebih akurat, hotel dapat mempertimbangkan biaya distribusi lainnya. Contohnya: OTA commission, payment gateway fee, promotional discount yang ditanggung hotel, campaign atau visibility fee, biaya channel tertentu, dan biaya akuisisi dari paid advertising. Karena struktur biaya setiap channel berbeda, hotel sebaiknya membuat laporan berdasarkan channel dengan definisi biaya yang jelas. Dengan begitu, manajemen dapat membandingkan gross revenue, distribution cost, dan net revenue secara lebih objektif.

Dengan membandingkan Net ADR antara OTA, direct booking, dan channel lainnya secara konsisten, hotel dapat memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan ke mana budget marketing dan distribusi perlu diarahkan.

Ecommerceloka membantu hotel mengelola strategi digital dan ecommerce dengan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari distribusi online hingga optimasi direct booking dan performa channel. Dengan data yang tepat, hotel dapat mengambil keputusan berdasarkan revenue yang benar-benar dihasilkan, bukan hanya angka penjualan di permukaan.