Coba tanya ke pemilik hotel atau villa di Bali, hampir semua pernah kaget waktu pertama kali lihat laporan pendapatan bulanan dari OTA. Kamar sudah terisi penuh, tamu terus berdatangan, tapi uang yang masuk ke rekening kok lebih kecil dari yang dibayangkan? Nah, di situlah peran komisi OTA mulai kelihatan jelas.
Buat yang masih baru terjun ke bisnis penginapan atau baru mulai serius menggarap ecommerce hotel, memahami skema komisi ini bukan sekadar info tambahan. Ini penentu apakah bisnis kamu untung tipis atau bisa berkembang jangka panjang.
Apa Itu Komisi OTA?
OTA atau Online Travel Agent adalah platform seperti Booking.com, Agoda, Traveloka, Expedia, sampai Tiket.com yang membantu hotel menjual kamar secara online. Mereka punya trafik besar, database jutaan calon tamu, dan sistem pembayaran yang sudah dipercaya orang di seluruh dunia.
Sebagai gantinya, setiap kali ada tamu yang booking lewat platform mereka, hotel wajib membayar komisi. Komisi ini dipotong otomatis dari total harga kamar yang dibayar tamu, biasanya sebelum atau sesudah tamu check-out, tergantung skema pembayarannya (net rate atau publish rate).
Simpelnya begini: OTA menyediakan "etalase toko" dan mengirim pembeli, hotel menyediakan produknya (kamar), lalu keuntungan dibagi lewat komisi.
Berapa Besaran Komisi OTA yang Umum Berlaku?
Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Berdasarkan praktik yang berlaku di industri perhotelan Indonesia maupun global, kisaran komisinya kurang lebih seperti ini:
- Booking.com: sekitar 15% - 20%, bisa naik kalau ikut program Genius atau Preferred Partner
- Agoda: sekitar 15% - 25%, tergantung level partnership dan musim
- Traveloka: sekitar 15% - 20%, dengan skema tambahan untuk promo bundling
- Expedia: sekitar 15% - 25%, terutama untuk hotel yang masuk program Expedia TravelAds
Angka pastinya berbeda-beda tergantung negosiasi kontrak, kelas hotel, lokasi, dan seberapa aktif hotel ikut program promosi mereka. Tapi secara umum, kisaran 15% - 25% per booking adalah standar yang paling sering ditemui di lapangan.
Simulasi Hitungan Sederhana
Biar lebih kebayang, kita coba hitung pakai contoh nyata. Misal ada villa di Canggu dengan harga kamar Rp1.500.000 per malam, dan komisi OTA yang berlaku 20%.
- Harga jual ke tamu: Rp1.500.000
- Komisi OTA (20%): Rp300.000
- Uang bersih yang diterima hotel: Rp1.200.000
Kelihatan kecil ya potongannya kalau cuma satu kamar. Tapi coba kalikan dengan 20 kamar terisi tiap hari selama sebulan. Total komisi yang "menguap" ke OTA bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ini alasan kenapa banyak hotel mulai serius membangun kanal booking langsung, bukan cuma mengandalkan OTA saja.
baca juga Guest House Sepi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kenapa Hotel Tetap Pakai OTA Meski Komisinya Besar?
Wajar kalau muncul pertanyaan: kalau komisinya segede itu, kenapa masih banyak hotel yang bergantung pada OTA?
Jawabannya simpel, OTA memberi akses ke pasar yang jauh lebih luas daripada usaha promosi sendiri. Buat hotel baru atau yang belum punya nama besar, OTA jadi jalan tercepat untuk dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini bagian dari ekosistem ecommerce hotel yang memang sudah jadi kebiasaan konsumen sekarang, orang cenderung riset dan booking lewat aplikasi dibanding telepon langsung ke hotel.
Masalahnya muncul kalau hotel 100% bergantung pada OTA tanpa punya kanal booking langsung sama sekali. Di titik ini, komisi yang tadinya wajar bisa berubah jadi beban yang menggerus margin keuntungan tiap bulan.
Cara Agar Komisi OTA Tidak Menggerus Revenue
Kabar baiknya, ketergantungan pada OTA bisa dikelola. Beberapa strategi marketing hotel yang biasa dipakai untuk menyeimbangkan porsi booking OTA dan direct booking antara lain:
- Optimasi website resmi hotel supaya tamu yang sudah kenal brand bisa booking langsung tanpa lewat OTA
- Program member atau harga khusus untuk repeat guest yang booking langsung
- Aktif di media sosial dan Google Business Profile supaya calon tamu menemukan hotel bukan cuma lewat OTA
- Kelola channel manager dengan baik supaya harga dan ketersediaan kamar tetap konsisten di semua platform, termasuk website sendiri
- Manfaatkan email atau WhatsApp marketing ke database tamu lama untuk booking ulang tanpa potongan komisi
Kombinasi strategi ini bukan berarti meninggalkan OTA sepenuhnya, tapi membangun keseimbangan supaya hotel tidak "kecanduan" satu sumber booking saja.
Kelola OTA bersama ecommerceloka
Mengelola listing di banyak OTA sekaligus, menjaga rate parity, memantau komisi tiap platform, sambil tetap membangun direct booking, ini kerjaan yang butuh waktu dan ketelitian. Banyak pemilik hotel akhirnya kewalahan karena harus pantau semua channel manual setiap hari.
Di sinilah jasa OTA Bali dari tim ecommerceloka biasanya dibutuhkan. Kami membantu hotel dan villa mengelola listing OTA secara menyeluruh, mulai dari optimasi deskripsi dan foto, pengaturan harga dinamis, sampai strategi supaya porsi direct booking ikut naik seiring waktu. Tujuannya bukan cuma "kamar penuh", tapi memastikan setiap booking yang masuk benar-benar menguntungkan buat pemilik properti.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Apakah komisi OTA bisa dinegosiasikan? Bisa, terutama untuk hotel dengan jumlah kamar besar atau yang sudah lama bermitra. Biasanya negosiasi dilakukan lewat account manager masing-masing OTA.
2. OTA mana yang komisinya paling kecil? Tidak ada angka pasti karena tergantung negosiasi dan program yang diikuti, tapi secara umum kisarannya mirip di semua platform besar, sekitar 15%-25%.
3. Apakah direct booking benar-benar bisa menggantikan OTA? Tidak sepenuhnya, tapi bisa mengurangi ketergantungan. Kombinasi keduanya biasanya menghasilkan performa penjualan paling sehat.
